Peribahasa
mengatakan, “pikirkanlah apa yang mampu engkau pikirkan dan jangan engkau
pikirkan apa yang tak mampu engkau pikirkan!”
Sejalan dengan peribahasa tersebut dapat
kita jabarkan bahwa memang pemikiran manusia itu seolah terbatas, yah benar
bahwa pemikiran dan logika tak sepenuhnya dapat digunakan dalam mengungkap
suatu kemustahilan, kita ambil contoh bahwa Nabi Muhammad saw Isro Mi’raj dalam
waktu semalam, tentu secara logka itu hal yang mustahil, tak mampu dipikirkan
dan masuk nalarContoh manusia hidup karena adanya Ruh, dan Ruh itu tak dapat
dilihat dan digambarkan bentuknya, tak dapat dilihat, dan tak ada suatu
pemikiran logis yang menggambarkan bentuk dari Ruh.
Itu hanya contoh kecil, masih banyak
misteri dan rahasia ala mini yang tak mungkin dapat kita pikirkan dengan logika
dan nalar semata. Lantas sejauh mana nalar dan logika itu dapat mencapai
batasnya? Saya mengambil suatu konklusi bahwa jawabannya adalah semua yang
menyangkut kehidupan manusia, segala kebutuhan dan permasalahan manusia. Tak
ada suatu permasalahan pun yang tercipta di dunia ini tanpa solusi, walau
pemecahan itu memerlukan nalar yang tinggi sekalipun pasti serumit apapun itu
akan dapat terpikirkan, tak ada permasalahan yang muncul tidak dengan
solusinya.
Ketika
problema datang, maka pikirkanlah!
Jadi, pemikiran atau daya nalar itu bukanlah suatu yang
tertinggi yang ada di dalam diri manusia. Lantas apa? Jawabannya adalah
keyakinan atau akidah, yah benar ketika pemikiran kita sudah mencapai batasnya dengan
semua uji teoritis dan empiris yang valid maka yakinilah itu sebagai suatu
nilai, nilai benar atau salah.
“maka jangan engkau terlalu membanga-banggakan diri dengan penalaran dan daya pikir! Karena lebih dari itu ada keyakinan yang lebih bernilai” ` didik heryadi.


0 komentar:
Posting Komentar