Hingga Batas Pemikiran

| Minggu, 16 September 2012

            Peribahasa mengatakan, “pikirkanlah apa yang mampu engkau pikirkan dan jangan engkau pikirkan apa yang tak mampu engkau pikirkan!”
     Sejalan dengan peribahasa tersebut dapat kita jabarkan bahwa memang pemikiran manusia itu seolah terbatas, yah benar bahwa pemikiran dan logika tak sepenuhnya dapat digunakan dalam mengungkap suatu kemustahilan, kita ambil contoh bahwa Nabi Muhammad saw Isro Mi’raj dalam waktu semalam, tentu secara logka itu hal yang mustahil, tak mampu dipikirkan dan masuk nalarContoh manusia hidup karena adanya Ruh, dan Ruh itu tak dapat dilihat dan digambarkan bentuknya, tak dapat dilihat, dan tak ada suatu pemikiran logis yang menggambarkan bentuk dari Ruh.

     Itu hanya contoh kecil, masih banyak misteri dan rahasia ala mini yang tak mungkin dapat kita pikirkan dengan logika dan nalar semata. Lantas sejauh mana nalar dan logika itu dapat mencapai batasnya? Saya mengambil suatu konklusi bahwa jawabannya adalah semua yang menyangkut kehidupan manusia, segala kebutuhan dan permasalahan manusia. Tak ada suatu permasalahan pun yang tercipta di dunia ini tanpa solusi, walau pemecahan itu memerlukan nalar yang tinggi sekalipun pasti serumit apapun itu akan dapat terpikirkan, tak ada permasalahan yang muncul tidak dengan solusinya.
         Ketika problema datang, maka pikirkanlah!
         Jadi, pemikiran atau daya nalar itu bukanlah suatu yang tertinggi yang ada di dalam diri manusia. Lantas apa? Jawabannya adalah keyakinan atau akidah, yah benar ketika pemikiran kita sudah mencapai batasnya dengan semua uji teoritis dan empiris yang valid maka yakinilah itu sebagai suatu nilai, nilai benar atau salah.

“maka jangan engkau terlalu membanga-banggakan diri dengan penalaran dan daya pikir! Karena lebih dari itu ada keyakinan yang lebih bernilai” ` didik heryadi.

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲